
Budaya kerja generasi milenial dengan generasi Z atau Gen Z cukup memiliki perbedaan. Jika dulu jam kerja overtime dianggap sebagai dedikasi dan menunjukkan kesuksesan pekerja, kini Gen Z memberikan pandangan dan pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Bagi Gen Z, bekerja bukan sebagai kegiatan yang bisa ditukar dengan waktu. Ada bagian penting yang harus tetap dijalani beriringan, yaitu kehidupan pribadi. Hal ini banyak dikenal dengan istilah Work Life Balance.
Generasi sebelumnya, banyak yang menganggap kalau work life balance menunjukkan kurangnya etos kerja. Padahal sebenarnya, ada alasan tersendiri mengapa work life balance dianggap penting oleh pekerja Gen Z dan dapat meningkatkan produktivitas.
Work Life Balance dalam Pandangan Gen Z
Pada generasi sebelumnya, seperti Gen X dan Baby Boomers, work life balance diartikan sebagai bekerja keras di usia muda, dan menikmati hasilnya di masa tua. Sementara bagi Gen Z, usia muda adalah masa keemasan untuk menikmati hidup karena fisik masih lebih kuat dan kesempatan eksplorasi lebih besar.
Work life balance bukan tentang membagi porsi kerja dengan kehidupan pribadi. Tetapi memberi batasan yang jelas dalam bekerja. Gen Z umumnya ingin bekerja secara produktif pada waktu kerja yang disepakati, setelah jam kerja selesai maka mereka memiliki waktu yang maksimal untuk kehidupan pribadi.
Jam kerja yang telah selesai, Gen Z dapat memanfaatkan waktu untuk menjalani hobi, menyegarkan pikiran setelah lelah bekerja, bersosialisasi, atau bahkan istirahat dan tidak melakukan apa-apa. Semua dilakukan agar mood dan energi tetap terjaga saat memasuki waktu kerja, sehingga kerja bisa lebih maksimal.
Mengapa Gen Z Menginginkan Work Life Balance?
Muncul istilah work life balance dan dijadikan sebagai hal yang penting untuk dimiliki oleh pekerja usia muda seperti Gen Z bukan tanpa alasan. Ada banyak manfaat yang dirasakan oleh Gen Z ketika menerapkan work life balance. Berikut alasan mengapa work life balance penting bagi Gen Z.
1. Menyaksikan Burnout pada Generasi Sebelumnya
Gen Z bertumbuh dengan orang tua yang memiliki pola bekerja tiada henti, kurang membagi waktu antara bekerja dan kehidupan pribadi. Pola tersebut menyebabkan Gen X maupun milenial awal mengalami stres berat, hingga terkena penyakit akibat tekanan kerja yang begitu tinggi.
Gen Z mengambil pelajaran penting yang kemudian diterapkan ke kehidupan mereka setelah memasuki dunia kerja. Bekerja dengan produktif, dan tetap meluangkan waktu untuk menjalani hobi atau bersenang-senang bersama keluarga. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
2. Peduli Kesehatan Mental
Selama ini, generasi sebelumnya hanya mengutamakan untuk menjaga kesehatan fisik. Padahal sebenarnya, menjaga kesehatan mental tidak kalah penting dengan menjaga kesehatan fisik. Kesehatan mental yang terganggu, akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik seorang karyawan.
Dalam hal ini, Gen Z patut diapresiasi atas keberanian dalam membahas isu kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental seperti anxiety, burnout, hingga depresi adalah hal yang perlu dicegah. Salah satunya dengan membuat batasan agar tekanan kerja tidak menjadi penyebab utamanya.
3. Pola Baru Pasca Pandemi
Gen Z mulai memasuki waktu kuliah dan bekerja saat munculnya pandemi Covid-19 yang membuat mereka terbiasa dengan sistem work from home (WFH), serta kuliah online. Pandemi menunjukkan pekerjaan tetap bisa diselesaikan meskipun hanya dilakukan dari rumah.
Bekerja dari rumah memberikan kebiasaan kerja dengan waktu yang fleksibel, sehingga mereka bisa mengatur sendiri ritme kerja dan bisa tetap meluangkan waktu untuk menjalani kehidupan pribadi. Sistem ini membuat pola baru bagi Gen Z.
Work Life Balance Bagian dari Tren atau Kebutuhan?
Generasi X, Baby Boomer, dan milenial awal banyak yang menganggap jika work life balance hanya sebatas tren, bukan sebuah kebutuhan. Mari kita lihat sisi objektif dari work life balance.
Work Life Balance sebagai Tren
Setelah pandemi, tren work life balance banyak digaungkan di media sosial. Mulai dari bekerja di co-working space, coffee shop, hingga bekerja sambil liburan. Konten yang menjadi romantisasi realita membuat anak muda banyak yang menuntut work life balance hanya sebatas ingin mengikuti tren.
Work Life Balance sebagai Kebutuhan
Tanpa distraksi dari konten media sosial, work life balance dapat dijadikan sebagai kebutuhan. Dunia kerja di era teknologi seperti saat ini, membuat pekerja mudah dihubungi selama 24/7, sehingga memungkinkan tidak adanya batasan antara waktu kerja dan di luar pekerjaan.
Adanya kemudahan dalam hubungan pekerjaan, membuat pekerja harus bisa menetapkan batasan antara waktu bekerja dan istirahat. Work life balance menjadi kebutuhan agar otak diberikan waktu untuk beristirahat dan kesehatan mental tetap terjaga.
Work life balance pada akhirnya bukan hanya tren di media sosial, melainkan sudah menjadi kebutuhan di era modern. Keseimbangan memberikan dampak baik, karena pikiran yang sehat akan membuat seseorang lebih produktif, dan melakukan pekerjaan lebih maksimal. Tingkatkan produktivitas dengan menjalani work life balance!
